Surat Cinta Dari Sang Kekasih
Karya : Cecep Yusuf Pramana
tentang-pernikahan.com – Assalamu’alaikum…apa kabar buat calon suamiku.
Semoga Allah sentiasa merahmati dan memberkati dirimu yang tidak pernah
kutemui, namun doaku tidak pernah putus mengiringi setiap langkahmu demi
meraih keridhaanNya
Rasulullah SAW pernah bersabda: “Seindah perhiasan dunia adalah wanita
yang solehah,”
Alhamdulillah, itulah anjuran Islam melalui Rasulullah SAW yang kita
cintai. Pilihlah wanita yang mampu menyejukkan pandanganmu dan juga rumah
tangga muslim yang bakal dibina saat menikah nanti.
Wahai calon suamiku,
“Dinikahi seorang wanita karena empat perkara, karena hartanya,
keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah agamannya, maka
beruntunglah kedua tanganmu”.
Itulah sebuah pijakan utama buatmu memilih calon isteri. Sebuah pijakan
utama itu telah menjadi hafalanku sejak aku beranjak dewasa (baca; baligh).
Wahai calon suamiku,
Jika harta yang engkau idamkan, maka ketahuilah diriku bukanlah orang yang
berada. Tiada harta yang dapat kupersembahkan dalam ijab-kabul kita nanti.
Tiada harta sebagai jaminan bahwa engkau akan menikmati sedikit kesenangan
apabila ijab-kabul telah dilafazkan.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
kaum yang berfikir”. (QS Ar Ruum: 21)
Jika keturunan yang engkau dambakan, ketahuilah bahwa aku hanyalah manusia
biasa dari keluarga yang biasa pula. Namun apa yang pasti. Aku adalah
keturunan yang mulia, ayahanda adalah Nabi Adam as dan bunda Siti Hawa as,
sama seperti mu.
“…Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Jika Allah menolong kamu, Maka
tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu
(tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong
kamu (selain) dari Allah sesudah itu? karena itu hendaklah kepada Allah
saja orang-orang mukmin bertawakkal. (QS. Ali Imran: 159-160)
Kecantikan, itulah pandangan pertama setiap insan. Malah aku meyakini
bahwa engkau juga tidak terlepas seperti manusia yang lainnya. Ketahuilah
wahai calon suamiku, jika kecantikan itu yang engkau inginkan dari diriku,
maka engkau telah salah langkah.
Tiada kecantikan yang terlihat orang lain yang dapat kupertontonkan
padamu. Telah aku hijabkan (baca; jilbab) kecantikan diriku ini dengan
amalan ketaatan kepada tuntutan agama yang kucintai. Engkau hanya akan
sia-sia jika hanya menginginkan kecantikan lahiriah semata.
Dan aku tidak dapat menjanjikan, bahwa aku mampu membahagiakan rumahtangga
kita nantinya, karena aku memerlukan engkau untuk bersamaku untuk
menegakkan dakwah islam ini, dan aku merelakan diri ini menjadi penolongmu
untuk membangunkan sebuah markaz dakwah dan tarbiyah islamiyah ke arah
jihad hambaNya kepada Penciptanya yang agung, Allahu Rabbi.
Mencari ilmu agama secara bersama, marilah kita jadikan pernikahan ini
sebagai risalah demi meneruskan perjuangan Islam. Aku masih kekurangan
ilmu agama, tetapi berbekal ilmu agama yang ada ini, aku ingin menjadi
isteri yang sentiasa mendapat keridhaan dari Allah dan suamiku.
Hal itu tak lain untuk memudahkan aku membentuk rumah tangga muslim antara
aku, engkau dan anak-anak kita nantinya untuk dibina dan diberikan
pendidikan dengan ketaatan kepada Allah SWT. Aku pun hanya akan
bercita-cita untuk bisa bergelar pendamping solehah bagi sang suami,
seperti yang dijanjikan Rasulullah SAW.
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan
kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan
dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan
yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan)
nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan
silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS
An Nisa: 1)
Calon Suamiku yang dirahmati Allah
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah
telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain
(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari
harta mereka”. (QS. An Nisaa: 34.)
Aku yakin bahawa engkau adalah pemimpin untuk diriku dan anak-anakku
sebagai pewaris dakwah Islam. Maka, jadikanlah pernikahan ini nantinya
sebagai asas pembangunan iman, bukannya untuk memuaskan bisikan syaitan
yang menjadikan ikatan pernikahan sebagai hawa nafsu semata.
Semoga diriku dan dirimu sentiasa didampingi rahmat dan keridhaanNya.
Lakukanlah tanggungjawabmu itu dengan nilai kesabaran, dan ketabahan.
Semoga kita akan menjadi salah satu daripada jamaah menuju ke syurga,
insya Allah.
Ketahuilah wahai calon suamiku, bahwa aku tidak pernah mendambakan mas
khawin yang hanya akan menyebabkan hatiku buta dalam menilai arti kita
dipertemukan Allah atas dasar agama.
Cukuplah seandainya, maharku adalah sebuah qalam mulia, Al-Quran, karena
aku meyakini qalam itu mampu memimpin rumahtangga kita untuk meraih
keridhaanNya bukan kekayaan dunia yang bersifat hanya sementara.
Bantulah aku dalam memperjuangkan dakwah Allah ini melalui pernikahan,
karena ia adalah tempat untuk aku menyempurnakan separuh daripada agamaku,
insyaAllah. Akhlakmu yang terdidik indah oleh ibu bapa dan orang
sekelilingmu, itulah yang aku harapkan daripada harta duniawi yang ingin
kau sediakan untukku.
Kutitipkan sebagian dari pengetahuanku melalui buku “Jalan Dakwah” karya
Syaikh Mustafa Masyhur, yang tidak lagi berwujud keborosan dan kebakhilan
karena semuanya berada di dalam sikap qana’ah (berpuas hati dengan apa
yang ada), ridha dan yakin.
Wahai calon suamiku,
Lihatlah rumahtangga Rasulullah SAW, terkadang sebulan pernah dapurnya
tidak berasap karena tidak ada bahan makanan yang dapat dimasak. Namun,
walau begitu susahnya, rumahtangga Rasulullah SAW tetap menjadi
rumahtangga yang paling bahagia, yang tidak ada bandingnya hingga hari ini.
Terlalu panjang rasanya aku mencoretkan surat ini. Cukup dahulu aku buat
surat ini, andai diizinkan aku akan kembali menitipkankan lagi kiriman
bertintakan hati ini. Akhirnya, saya mohon maaf, biarlah rindu ini
ditumpahkan dalam tinta daripada jemu tatkala kita disatukan.
Wassalam